Selasa, 05 November 2013

Proyek Pengembangan Gas Jawa (PPGJ) Blok Gundih di Kec.Kradenan Blora Serap Tenaga Lokal

Pembangunan Central Processing Plant (CPP) PPGJ Blok Gundih di Desa Sumber, Kec.Kradenan, Blora
BLORA. Sekalipun PPGJ merupakan proyek nasional namun Pertamina EP tak akan meninggalkan warga sekitar. Bupati Blora pun mengapresiasi agar industri gas segera memberi konstribusi ke pendapatan daerah.

Di setiap kegiatan Proyek Pengembangan Gas Jawa (PPGJ) yang merupakan pengembangan lapangan gas Blok Gundih di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, PT Pertamina EP mengedepankan tenaga kerja lokal.  Hal itu merupakan nilai tambah kegiatan operasi perusahaan terhadap masyarakat.

Seperti dalam proses pembangunan Central Prossesing Plant (CPP) Gundih, proporsi tenaga kerja lokal yang dilibatkan sekitar 30 persen, untuk klasifikasi pekerjaan yang membutuhkan keahlian (skilled). Sedangkan untuk tenaga non keahlian (unskilled) 100 persen dari tenaga kerja lokal.

"Dalam  proses pembangunan tersebut dipekerjakan sekitar 1.700 orang, dan 65 persen  diantaranya adalah penduduk lokal," kata Government & PR Assistant Manager PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Asset 4, Yuliani.

Sedangkan untuk Operasional dan Perawatan (Operational & Maintenance/O&M) CPP Blok Gundih, nantinya akan dilaksanakan oleh PT Titis Sampurna. Dari pekerjaan ini tenaga kerja lokal yang terserap sebanyak 131 orang. Sebanyak 16 persen tenaga kerja yang direkrut  berasal dari kalangan pemilik lahan, non pemilik lahan sebanyak 37 persen, dan kalangan umum dari masyarakat Cepu, Blora, dan sekitarnya sebanyak 47 persen.

"Sehingga dapat dikatakan bahwa tenaga kerja operator terampil ini ke depan merupakan tenaga kerja yang 100 persen berasal dari Kabupaten Blora," terang Yuliani.

Ke depan jenis pekerjaan tersebut diantaranya meliputi operator bagian elektrik, mekanical, instrument, processing, dan juga staf lokal.  Pekerja lokal yang akan bekerja di pusat pemrosesan di area Gundih, PPGJ ini telah mengikuti pelatihan selama tiga bulan sebelum bekerja.

Sebagai perusahaan perminyakan tentunya punya tanggung jawab sosial dan lingkungan. Pertamina EP juga melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian budaya, serta lingkungan hidup di sekitar daerah operasi.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat antara lain program peningkatan kompetensi penerus bangsa. Hal ini diwujudkan dengan menyelenggarakan program pelatihan peningkatan kompetensi untuk 45 orang. Mereka merupakan pemuda dari daerah sekitar area operasi PPGJ.

Selain itu, Pertamina EP telah  menyerahkan bantuan komputer dan printer untuk SMP 3 Randublatung. Total nilai kedua program tersebut mencapai Rp338 juta.

Di bidang pelestarian lingkungan hidup, di sekitar daerah operasi dilaksanakan program penghijauan. Termasuk edukasi cinta lingkungan kepada siswa dari sekolah-sekolah di sekitar daerah operasi. Sedangkan program pelestarian budaya dilakukan bersama masyarakat Desa Wado, berupa pelestarian seni pertunjukan Ketoprak.

Apa yang telah dilakukan Pertamina EP Asset 4 diapresiasi secara positif oleh Bupati Blora, Djoko Nugroho. Apalagi wilayah Blora memiliki potensi SDA Migas yang melimpah, namun belum satupun diproduksi. Hal ini berakibat Blora belum mendapatkan kompensasi signifikan dari potensi tersebut.

Kokok, demikian Djoko Nugroho akrab disapa, mengajak kepada seluruh masyarakat Blora untuk mendukung proyek-proyek Pertamina EP yang dilaksanakan di beberapa lapangan  blok migas di Kabupaten Blora. Dengan cara itu mampu memberikan kontribusi kepada daerah.

"Kegagalan pada masa lalu terkait eksplorasi dan produksi minyak di Blora jangan sampai terulang. Kala itu, Exxon Mobil (melalui anak perusahaannya Mobile Cepu Ltd atau MCL)  mau melakukan pengeboran di Blora ini ditolak dan gagal. Untuk Pertamina ini jangan sampai gagal lagi," katanya.

Dukungan itu, lanjut Kokok, bukan hanya dari unsur masyarakat saja namun juga dari kalangan DPRD Blora. Mereka berharap agar Pertamina EP bisa mengeksploitasi SDA migas di Blora.

Menurut Kokok, penolakan warga Sumber terkait rencana pengeboran air tanah untuk operasional CPP Gundih hendaknya menjadi pelajaran bersama. Satu hal yang dipersoalkan bupati dalam aksi warga Sumber adalah terkait PPGJ yang membutuhkan air untuk operasional kerjanya tidak lebih dari 7 liter per detik. Menurutnya, keliru jika warga menuntut Pertamina PPGJ harus membeli air dari petani.

‘’Kalau membeli air dari sumur petani itu malah salah. Air sumur petani PWJ untuk irigasi pertanian,’’ kata Kokok seraya menambahkan, selama ini pemerintah telah banyak memberikan bantuan kepada petani di Desa Sumber. Diantaranya pembangunan sejumlah sumur Product Well Juana (PWJ).

Saat ini, ungkap Bupati Blora, pemerintah dalam hal ini Pertamina EP membutuhkan air untuk operasional PPGJ. Gas yang hasilkan dalam PPGJ akan disalurkan ke pembangkit listrik Tambaklorok, Semarang. Dia pun berharap warga membantu pemerintah dalam melaksanakan program pembangunan di wilayahnya.

Banyak hal yang didapatkan Pemkab Blora jika nantinya produksi gas di CPP Gundih terlaksana. Blora akan menjadi pilot project dalam program City Gas yang saat masih dalam proses  pemasangan pipa jaringan ke Rumah Tangga Sasaran (RTS) sebagai pemanfaat.

Proyek ini merupakan kompensasi dari Pemerintah Pusat untuk Blora, atas kegiatan ekploitasi dan eksplorasi sumur gas di  Sumber. Untuk proyek City Gas pemerintah pusat  membantu dana Rp40 miliar. Distribusi gasnya tersebar di tujuh desa dari tiga kecamatan. Yakni; Desa Sumber, Wado, Pulo, Mojorembun, Kapuan, Kemantren, dan Desa Tanjung.

"Semua untuk 4.000 KK warga yang tinggal di sekitaran lokasi proyek PPGJ tersebut," ungkap Kokok.

Di samping itu, tambah dia, seiring dengan produksinya gas di CPP Gundih, maka dengan sendirinya Blora akan mendapatkan pembagian Dana Bagi Hasil (DBH) gas-nya.

PPGJ merupakan proyek fital dalam memenuhi kebutuhan gas di tanah air. Proyek ini merupakan pengembangan lapangan gas Blok Gundih yang berasal dari struktur Kedungtuban, Randublatung, dan Kedunglusi di wilayah Blora, Jawa Tengah.

Proyek ini bertujuan untuk mengembangkan, memproses, dan memproduksikan gas di area Gundih sesuai dengan keekonomian lapangan. Agar siap dijual ke konsumen dengan volume 50 MMSCFD pada tahun 2013.

Produksi gas dari CPP Gundih ini bisa menghemat penggunaan anggaran negara. Sedangkan eksekusi proyek dimulai semenjak persetujuan POD pada tahun 2007–2008 serta  pembangunan CPP dimulai pada 1 Juni 2011 lalu.

"Dari kontribusi produksi gas pada proyek PPGJ ini membuka  potensi penghematan anggaran negara hingga 21,4 triliun rupiah," sebut Yuliani.

Dia katakan, potensi penghematan tersebut didapatkan dari selisih biaya penggunaan HSD dan Gas Bumi sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Berdasarkan kalkulasi perbandingan nilai kalori, Gas Bumi memiliki keunggulan 26,31 kali lebih tinggi dibandingkan dengan HSD.

Nilai kalori HSD per liter sebesar 9.100 Kcal, sedangkan gas bumi bisa mencapai lebih dari 239 ribu Kcal. Maka berdasarkan asumsi pasokan 50 MMSCFD Gas untuk pembangkit listrik di Tambak Lorok, maka potensi penghematan bisa mencapai Rp5,4 miliar per hari atau sekitar Rp21,4 Triliun dalam 12 tahun. Ini  wujud kontribusi Pertamina EP dalam mendukung program pemanfaatan gas dari pemerintah, dan efisiensi biaya dalam negeri.

"CPP Gundih memiliki kapasitas proses sebesar 70 MMSCFD, dan akan menghasilkan gas sebesar 50 MMSCFD," ungkap Yuli.

CPP Gundih bisa dikatakan central produksi gas terbesar se Asia Tenggara, karena  memiliki kompleksitas yang tinggi. CPP ini juga merupakan proyek pertama  di Indonesia yang menggunakan teknologi Bio Sulfur Recovery Unit (BSRU),  dan Coustic Treatment Unit (CTU).

Sumber : Info Blora

0 komentar:

Posting Komentar